Tidak konsisten adalah Third Mistake yang sering dilakukan ortu dgn disadari, walaupun kadang ortu memiliki seribu macam alasan, seperti kesibukan, stress, kurang perhatian, waktu arisan,dll utk membenarkan perihal ketidakkonsistenannya, namun hal tsb memberikan preseden negatif kepada anak. Konsisten berarti mengikuti seluruh aturan dan konsekuensinya. Dimana aturan dan konsekuensi tsb tidak hanya berlaku pada anak namun berlaku pula bagi ortu, ketika ortu melanggar aturan tsb konsekuensinya pun harus diterapkan seperti yang berlaku pada anak. Salah satu contoh real adalah rutinitas harian ortu dan anak dari bangun pagi, persiapan ke sekolah, mengerjakan PR setelah makan siang, hingga tidur malam. Rutinitas yg konsisten membuat ortu dan anak mampu memprediksi sehingga rutinitas berjalan dgn menyenangkan. (tak perlu ada perdebatan dan keributan antara ortu dan anak)
Konsistensi merupakan cara penting utk menolong anak mengembangkan rasa aman dan terjamin (baca: a sense of safety and security), tidak hanya dalam aturan dan disiplin. Dampaknya akan sangat berarti bagi seorang anak yang memahami bahwa ortunya berperilaku konsisten. Misalnya saja, menanyakan kegiatannya di sekolah setiap hari atau konsisten menghadiri kegiatan khusus si anak, seperti pertandingan sport atau bahkan party atau bazar/fair di sekolah, sebagai wujud betapa berharganya anak di mata ortunya. Konsisten dalam mengkomunikasikan cinta tanpa syarat akan membangkitkan rasa percaya diri, rasa tanggung jawab, dan memberi rasa aman pada si buah hati......cukup makan waktu ya tugas ortu
Kadangkala, konsisten bisa menjadi salah satu tantangan terberat bagi ortu. Mengorbankan kesibukan yg padat bukanlah hal yang mudah dilakukan. Bahkan kadang kontrol emosi ortu sangat dibutuhkan pada saat emosional ortu sedang labil (apalagi bila lagi 'under pressure' kerjaan..
). Karena dalam keadaan yang sulit seperti diatas peran ortu dalam memberikan peringatan dan konsekuensinya susah dilakukan dengan cara yang lembut kepada anak. Sehingga pesan2 ortu kadang tertutupi oleh emosi yg tidak terkontrol. Dan bahkan konsekuensi disiplin yg diberikanpun sulit diterima dan dikerjakan oleh si buah hati. Malah kadang tidak mungkin diterapkan dan sulit dimonitor oleh ortu....akibatnya bubar jalan...
malah menyusahkan diri sendiri.....tul gak?
Pesan bagi ortu; Lakukan semua metode secara tulus dan jujur, jangan terlalu manyalahkan diri sendiri ketika mengalami kegagalan. Setiap manusia bisa membuat kesalahan, hal tsb normal dan merupakan bagian hidup yang wajar (liat first mistake). Berusahalah dgn seluruh kemampuan utk menjadi seorang yg konsisten (buah hati akan meng-copy paste anda, percayalah!). Dalam waktu yg tidak lama, anda akan melihat manfaat yg lebih besar daripada upaya yg dilakukan.
Ada beberapa catatan penting yg bisa dijadikan guide dalam menerapkan sikap konsisten di rumah, antara lain:
1. Menjadi kaku atau liberal tidak akan menjadi masalah selama dalam menerapkan aturan dan konsekuensinya dilakukan secara konsisten
2. Laksanakan aturan dan konsekuensinya menyeluruh setiap saat
3. Berikan sebuah peringatan , setelah itu baru terapkan konsekuensinya
4. Aturan yg konsisten akan membuat anak memperoleh rasa aman, bertanggung jawab, memiliki harga diri, dan rasa percaya diri yg tinggi
5. Upayakan rutinitas pagi dan malam dilakukan secara konsisten dan menyenangkan
6. Gunakan konsekuensi yg mungkin utk dilaksanakan dan terukur (enforceable dan measureable) dan waktu penerapannya berjangka waktu singkat
7. Jangan pernah menerapkan sebuah konsekuensi dan kedisiplinan pada saat emosi ortu tidak stabil (marah)
8. Ortu (ayah dan ibu) harus sehati ketika menerapkan sebuah metode pengasuhan bagi anak